Membuka...

Advokat: Mungkin Diludahi, Tapi Tidak Akan Hina

"sebagian diantara kalian mengenalku!" seru Celer. "Aku Quintus Caecilius Metellus Celer-praetor, peramal dan baru-baru ini pulang dari pasukan kakak iparku, Pompeius Agung. Dan orang ini," katanya sambil memberi isyarat ke arahku, "datang membawa cincin konsul kita, Cicero. Dia memberi perintah untuk menurunkan bendera. Siapa pemimpin di sini?"

"Aku," jawab seorang centurion sambil melangkah maju. Dia lelaki berpengalaman berusia sekitar empat puluh tahun. "Dan aku tidak peduli kau ipar siapa, atau wewenang apa yang kau miliki, bendera itu tetap berkibar kecuali ada musuh yang mengancam Roma."

"Tetapi memang ada musuh yang mengancam Roma," kata Celer. "Lihat!" Dan dia menunjuk tanah disebelah Barat kota, yang terhampar di bawah kami. Si centurion menoleh, dan secepat kilat Celer menjambak rambutnya dari belakang dan menempelkan mata pedangnya ke leher tentara itu.

Apa bisa dibuat centurion ketika terjambak dengan pedang terhunus dilehernya, Celer adalah peramal yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat umum.

Tidak ada yang membantah setelah itu. Seorang tentara jaga membuka ikatan tali dan menurunkan bendera, sementara yang lain meraih terompet dan meniupnya beberapa kali dengan hunyi melengking.

...dan sidang rakyat di Padang Martius ditinggalkan rakyat yang tunggang-langgang tanpa memberikan suara pemutus perkara.

(Conspirata, hal. 82)

Jabatan, mereka yang menjabat seringkali karena keluarga, kekayaan dan sensasi atau kekuatan militer.

Tapi, ketika semua itu tidak disukai rakyat maka kemudian senjata terakhir yaitu "ramalan" atau agama atau mitos dan sejenisnya digunakan untuk mencuri keyakinan rakyat.

Baik anda manusia hukum ataukah manusia politik (ma'af, yang lain tidak), maka saya sarankan untuk berpikir secara diametral, dan tidak melalaikan prinsip antinomi.

Akan tetapi, saya lebih menghargai tidak ada perdebatan kecuali masukan dengan menyampaikan kutipan dari kisah Mahabarata atau kitab lainnya yang belum saya pahami (kekurangan saya) yang serupa dengan cerita diatas, yang saya yakin ada.

Oh ya, bahkan dalam Serat Centhini juga cerita yang sama dirupakan dengan pergerakkan Ki Seh Amongraga terhadap Sultan Agung, atau ada juga dalam buku Penaklukkan Pulau Jawa.

Kita hidup diatas cerita-cerita itu karena banyak kehilangan kualitas untuk membangun sejarah, sekedar imitasi, adopsi cerita lama di dunia baru.

Oh ya, beberapa jam sebelumnya Cicero naik ke mimbar pengadilan rakyat di Padang Martius bersama Hortensius tentu saja disana berkumpul juga para petinggi, pejabat negara - anggap saja si pikun Rabirius yang sudah tua sebagai sejarah dan prestasi yang mereka bopong ke atas mimbar.

Tubuh mereka berkilauan, karena air ludah yang menghujani mereka - sama seperti orang yang menghujani Advokat dengan nyinyiran, cemoohan dan umpatan secara pukul rata.

...hanya 2 (dua) pilihan saja, pertama, kita membuat suatu keputusan yang baik untuk negara dengan beroleh stigma pengkhianatan yang menghasud emosi rakyat, atau kedua, dengan menjadi pemeras rakyat melalui epos kepahlawanan yang meninabobokkan rakyat.

Mana yang sebenarnya khayalan anak kecil dan mana yang bisa menjadi rumusan negara baru.

Selamat merenung bersama saya.

Beranda