Njlimet Advokat Reminder
Melalui keputusan-keputusan politik yang diambil dan (seolah) diterapkannya prinsip terbuka dalam proses-proses perdebatan publik (public deliberation) secara bebas, setara dan rasional tampaknya ada upaya pengarahan ke wilayah mobokrasi/okhlokrasi.
Ini langkah tepat karena mobo/okhlo ini mensyaratkan pemerintahan yang dipegang oleh rakyat (tipikal daulat rakyat) tetapi rakyat tidak tahu apa-apa, rakyat tidak berpendidikan, dan rakyat tidak paham tentang pemerintahan tapi rakyat udah seneng banget dianggap paham dan dilibatkan - begitu kita pikir.
Padahal jelas keliatan juga upaya penjegalan (halus) wacana nomokrasi atau mungkin juga pemerintahan teokrasi berdasarkan syariat sepanjang batas kepentingan penguasa saja, bukan konstitusi.
Keluguan intelektualis politik yang nyoba manuver doktrin-teori sosialisme berlindung dibalik kesan meritokrat (boneka?) ngelancarkan (umpan) skenario demokratik yang bermaksud memuliakan kedaulatan rakyat menghendaki kepemimpinan yang kokoh yang berbasis hukum (nomokrasi sempit) dengan menjalankan amanat konstitusi.
Manusia-manusia sosialis ini selalu beranggapan (karena strata tingginya/kertas ijasah inteleknya) bahwa negara selalu lemah karena abstrak (weak state).
Mereka inilah sebetulnya penentu keputusan (veto players) dalam kendali negara (state scope) dalam arti sempit yaitu pemerintah, dimainkanlah teknik operasional kapasitas negara (state capacity) untuk melakukan enforcement.
Kalo ada yang berpikir kebangkitan ajaran terlarang maka anda punya PR (pekerjaan rumah) untuk mbuktikan, bisakah?
Tapi supaya kalem aja maka silakan disimak lagi sejarah Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP)/Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina yang didirikan George Habash yang menghilangkan unsur ekstrinsik dari komunis, tapi secara idea tetap bertahan pada isme tersebut.
Ada kesulitan pembuktian secara fisik, kalopun ada maka itu sekedar stratagem, kita dibawa pada fallacy lewat perang informasi, siapa percaya maka bakal terdistorsi, begitu kira-kira.
Sekarang, siapa yang nggak bisa nguasai kanal informasi dan berita?
Dus, semua punya dan pegang data yang siap dihidangkan untuk konsumsi anomalistik.
Bandingkan juga dengan Filipina, yang mana beberapa waktu lalu Rodrigo Duterte bahkan meminta bantuan tentara komunis untuk perangi isis (umpan issue nomokrasi?) dan berhasil memukul mundur.
Atau lihat bagaimana sejak 1938 (masa Mussolini) dunia sepakbola Italia dengan yel 'vincere o morire' (menang atau mati) justru membuat tim Hongaria yang dikalahkan di final piala dunia malah bangga bisa menolong tim Italia dari hukuman mati (mungkin), hingga saat ini masih memegang teguh tradisi yel-yel selebrasi ala fasis, marxis, komunis dan sejenisnya. Artikulasi sebuah identitas bisa muncul dengan fasih dalam sepakbola.
Hei, tahun itulah pertama kali Indonesia ikut piala dunia, satu-satunya tim sepakbola dari Asia Tenggara.
Kenapa diakhir saya bicara sepakbola?
Ini kok malah jadi ruwet?
Itu adalah implikasi logis dari ajaran yang dianut, dan ini proses perdebatan publik (public deliberation) secara bebas dengan umpan mobo/okhloktatif yang naif (tapi dihibur dengan jargon 'rakyat cerdas').
Ketika iring-iringan mencapai persimpangan, si pemimpin rombongan fans akan bertanya “ke arah mana?” dan semua berteriak nanggapi, “ke kiri! selalu ke kiri.”
Dan yang terpenting dari tulisan ini adalah bahwa saia bukan manusia politik, bukan juga mesin (robot) politik, sehingga cuma (mungkin) bisanya copas sana-sini, mungkin gitu.
Saia ndeso.