Membuka...

Narasi 12th Kongres Advokat Indonesia

Advokat lahir dari perlawanan atas absolutisme Monarki, tirani, opresi kemanusiaan dan nepotisme dimana hukum yang sejatinya adalah pembatasan kekuasaan namun berbalik justeru membatasi tatanan kemanusiaan.

Bukan prajurit yang kehilangan tuan, mereka yang budak tuan ialah zaakwaarnemers, para pokrol bambu apus, inilah yang disebut pengacara.

“Officium nobilium’  harus dijalankan oleh manusia bebas yang membebaskan, “opera liberlis”.

Peran mediator atau legatus (duta) bukan legiun yang haus merekrut prajurit.

Bukan dux (senapati) yang diangkat atau direstui sang kaisar.

Bukan kelompok legiun bantu dengan stipedium (uang jasa), korup bersama adsiduus tuan tanah di desa, jadi makelar dengan jatah uang lelah (donativum), tanah untuk kepentingan rejim.

Foederati (preman barbar) direkrut dan digaji dalam prinsip ekonomi perut lapar arus linear dengan politik meja makan dikalangan pejabat.

Sebetulnya "kandang besar" (colloseum) untuk tujuan gelar perang ala gladiator pemerintahan itu bisa ditekuni dengan perubahan desain mindset elegan, digubah jadi ruang tribunal tempat berkumpulnya para senatus.

Secara evolutif dipersilakan proses cursus honorum (tahapan kehormatan), tempat bersejarah terjadinya pax advocatus (perdamaian advokat) - ruang dewan hukum.

Rentang waktu untuk meluruskan eksistensi selayak Jembatan Trajanus bagi profesi advokat, terjemahan dewa dalam bahasa rakyat, tapi cukup seabad saja, jangan satu milenium.

Gerakan untuk persatuan (bukan penyeragaman), representasi kekuatan sepakat rakyat agar lepas dari opresi asing, dari Belanda juga Jerman.

Bung Karno (mungkin) salah bila mengatakan bahwa orang hukum susah diajak revolusi.

Kita tau diri untuk cukup menemukan kebenaran atas perkara rakyat dimuka hukum dan peradilan.

Tapi bung Karno pasti tau bahwa advokat adalah juga pendiri negara, mengisi kekosongan hukum dengan ide-ide mereka untuk sebuah bentuk negara.

Tidak mungkin revolusi kecuali ber-evolusi bersama negara yang dibangunnya dalam kebinekaan.

Dari adab kebangsawanan lalu turun kepada sebuah keadaan yang bisa mencederai kehormatan, demi rakyat.

Evolusi bersama KAI, berjalan, mendaki, berlari dan melompat - sekali tanpa "re" tanpa perulangan.

Beranda