Aforisma Elang
Seorang manusia pasti bernafas dengan udara, tapi ada saat dimana ia berbicara tentang udara yang membuat tidak nyaman.
Karena ketergantungan akan udara bersih maka bisa jadi udara juga lah yang mencabut nyawanya, udara merenggut kehidupan yang disukainya didunia.
Udara tidak menyaksikan langsung tingkah polah si manusia karena ia sibuk bekerja bersama paru-paru dan jantung, namun ia dapat merasakan getaran yang tidak nyaman dari manusia itu karena ia bekerja berdekatan dengan hati.
Betapa udara mengenali getaran hidup ini semenjak si manusia dilahirkan ke dunia.
Udara pun menangis sedih, mana mungkin ia bisa merenggut hidup manusia, mana bisa ia mencabut nyawa itu, dalam kesedihan ia menyadari bahwa dirinya sudah tidak disukai oleh si manusia, ia tidak ingin dirinya disebut sebagai pencuri ketika si manusia mati nanti, maka sebelum waktu kematian itu si udara pun meninggalkan si manusia, tanpa merenggut atau mengambil apa pun dari si manusia.
Selang beberapa waktu berlalu, ah ternyata sudah beberapa tahun semenjak kepergiannya dari si manusia rupanya di udara merindukan bekerja bersama jantung dan paru-paru manusia itu, tapi sayang, tidak ditemukan lagi di mana manusia itu sekarang berada.
Si udara tidak mengetahui bahwa semenjak kepergiannya dari hidup si manusia, maka manusia itu semakin lemah dan ia pun sesak tanpa kehadiran udara hingga kematian menjemputnya.
Tidak ada yang merebut kesenangan hidup dari manusia, tidak ada yang mencabut nyawa manusia... melainkan ruh itu dijemput, jangan pernah coba benci si udara.
Saya tidak perlu berpikir untuk menempatkan sebagai manusia, karena kebanyakan definisi manusia itu lebih kepada berkumpul dan bersenang-senang, dan saya ada diluar itu karena sulit ditemukan karakter "senyum dan senang" pada diri saya, mungkin karena sedari kecil kenangan terbesar saya dari alamarhum Ibunda adalah sebaris kalimat, "jangan cengengesan", karena itulah akan sulit menemukan kapan waktunya mulut saya dihiasi dengan lengkungan kearah atas sebagai sunggingan senyum.
Saya nggak bisa nyeleneh karena akan sulit untuk benar-benar mahami referensi berpengetahuan, dan saya kurang mampu fokus hanya pada satu bidang karena itu hanya akan memberikan sugesti sempit hingga gak mau tau kuasa materi bidang lainnya, dan bukankah itu sebenarnya akar dari kepicikan?
Maka itulah, (mungkin) saya bukan manusia bila berada ditengah mahluk lainnya.
Saya seperti itik si buruk rupa, atau lebih nyaman buat saya nyebut diri sebagai elang diantara merpati.
Saya adalah elang, bagi saya, udara adalah istri tercinta saya, dan pundi udara itu adalah kantung rasa kecintaan terhadapnya, dimana tersimpan panasnya birahi kesayangan yang mampu menerbangkan saya melintasi cakrawala dan terus terbang keatas awan badai ketika mahluk lainnya justeru memilih berlindung dan kembali kesarang, akhirnya, hidup itu adalah anak-anak saya.
Tapi bukan berarti apa yang diluar dan selain saya adalah burung merpati, tidak.
Cakrawala tanpa batas dimana saya terbang tinggi dan berpekik teriak adalah batin alam.
Udara (istri saya) sangat mengenali getaran yang ada pada diri saya, semenjak saya keluar dari eram dan cangkang telur sebagai elang, saya lahir dari hutan.
dan...
kapan kita terlahir sebagai manusia?
dan siapakah udaramu?